Small Language Models (SLM) untuk Edge: Phi‑3, Gemma‑2, Qwen2.5 – Benchmark On‑Device, Kuantisasi INT4/INT8, & Use Case
Perbandingan SLM Phi‑3, Gemma‑2, Qwen2.5: arsitektur, benchmark latency, kuantisasi INT4/INT8, dan use case on-device.
Tech - Savvy Traveler
Tech - Savvy Traveler
Perbandingan SLM Phi‑3, Gemma‑2, Qwen2.5: arsitektur, benchmark latency, kuantisasi INT4/INT8, dan use case on-device.
Panduan lengkap membangun sistem rekomendasi produk e-commerce menggunakan TF-R: persiapan data, retrieval model, ranking model, evaluasi, dan deployment.
Panduan praktis 7‑hari di Jepang dengan total budget 15 Juta rupiah, mencakup transport, akomodasi, dan aktivitas.
Your CEO read one tweet about fine-tuning. Before you spend a quarter of your budget — here’s the 4-question test that tells you whether you need RAG, fine-tuning, or just a better prompt.
AI generates code that compiles. But production doesn’t care about compilation — it cares about architecture, resilience, and the decisions that keep systems running when everything fails.
When you type a URL, your browser executes over a hundred distinct steps before a single pixel appears. This is the journey from HTML to pixels — and where performance bottlenecks actually live.
Prompt yang benar tidak harus panjang — cukup terstruktur. Framework STAR (Situation, Task, Action, Result) bisa meningkatkan akurasi respons AI hingga 40%. Ini cara kerjanya. Seorang developer bernama Raka sedang mengerjakan proyek full-stack menggunakan Next.js. Dia membutuhkan bantuan AI untuk menulis kode autentikasi. Raka mengetik prompt: “Tolong buatkan sistem login untuk aplikasi saya.” AI merespons […]
500 orang terhubung ke satu WiFi kampus. Jam makan tiba, semua buka YouTube dan Instagram. WiFi langsung mati. Kenapa? Karena ada satu konsep bernama contention ratio yang belum pernah diajarkan di perkuliahan.
Kamu buka Instagram untuk 5 menit. 2 jam kemudian masih scrolling, merasa kosong. Ini bukan kurang disiplin — ini dopamine loop yang dirancang oleh aplikasi.
Lo beli tiket Rp 8 juta ke Jepang, makan Rp 30 ribu. Lo beli tiket Rp 1,5 juta ke Lombok, makan Rp 80 ribu. Siapa yang lebih mahal? Rahasianya ada di psikologi belanja — bukan di harga.